nasab, antara ukhuwah dan fasis

Sudah lama saya memiliki uneg uneg tentang nasab ( silsilah / garis keturunan ). Sejak saya masih abg culun di smp kampung, sampai baru sekarang kesampaian mulai belajar bisa merangkai kata.
Tentang "nasab" atau kata awamnya silsilah garis keturunan keluarga. Saya pribadi tumbuh dalam keluarga yang awam dan tak pernah membahas silsilah hingga di atas kakek buyut, seperti umumnya keluarga biasa jaman sekarang saja. Hanya ada satu dua orang guru ngaji (kyai pondok pesantren setempat) pernah bilang saat saya masih bego, bahwa saya masih ada garis keluarga "ulama ulama".

Dan karena saat smp saya masih bego terus sma sembuh dari bego bukannya jadi pintar malah jadi bandel, makin tak peduli-lah saya dengan "nasehat nasab" yang terngiang kala smp.

Kini setelah sembuh dari bego dan tidak bandel lagi, saya diperjumpakan-kembali dengan kerabat dari kakek buyut yang sebenarnya sudah saya kenal dari dulu namun saya sendiri yang jarang bersilaturahmi, dan jadilah kami -saya dan mbah lik,saya menyebutnya begitu- sempat mengobrol panjang lebar (=luas ya?) tentang "nasab"
begini ceritanya (walah).

Saya adalah putra dari pak Sunarto bin Karyo Sariman bin(?) dengan ibu Siti Khodriyah binti Biseri.
mbah Biseri adalah putra dari Ahmat Thaher bin(?) dengan ibu Karmilah binti Mangun Sentono bin Manguntono bin Bustomi bin Rodi bin Ambiyak bin Basyarudin bin AbdulRohman(Khotib Anom) bin Anom Besari bin Abdul Musyad.
inilah data valid yang saya dapatkan dari mbah Bur (mbah lik saya, juru kunci makam syeh Basyarudin di Srigading Bolorejo, Kauman Tulungagung yang merupakan putra dari mbah Ngadenan / kakak dari nenek buyut saya mbah Karmilah(nyai Ahmad Thaher)) dan verified oleh kerabat se-domisili Tulungagung yang  lain.
Sampai di sini, mbah Bur, lengkapnya Burhanuddin bin Ngadenan bin Mangun Sentono bin Manguntono dst..) mewanti saya, meski saya bukan keturunan langsung dari nasab syeh Basyarudin bin...dst, namun saya tetap harus menjunjung tinggi kekerabatan dengan cara mempertebal takwa dan ibadah karena bagaimanapun "kecilnya" secara genetis saya masih dialiri darah mereka dari ibu secara biologis dan diakui masyarakat secara sosial.

Saya, yang pernah bandel saat muda, jadi kepikiran. What the hell with this nasab?
Saya jadi teringat nasehat saat saya masih culun berseragam celana pendek dulu. Bukankah tanpa perlu tahu anak-keturunan siapapun orang memang sudah seharusnya mempertebal takwa dan terus meningkatkan ibadah?
Lalu saya browsing ke forum forum yang ada di mbah google, sampai ketemu salah satunya atau salah duanya, benmashoor, trahpanembahanwongsopati, krmkasiman, dan lain lain, saya jadi sedikit paham.

Secara idealisme nasab sudah seharusnya menjadi pendorong motivasi untuk menjadi lebih baik, bukan sebagai kebanggaan yang kosong tanpa isi. Sejarah membuktikan siapapun yang "fasis" membanggakan genetikanya, selalu terpuruk di akhir riwayatnya.
Janganlah anda yang dikaruniai "keberuntungan" terlahir dari keturunan keluarga leluhur yang luar biasa, justru terkesan membanggakan nasab anda. Sebaliknya, dengan nasab yang tersemat dalam keluarga anda, sudah seharusnya jika anda bangga dengan itu, memampukan anda menjadi teladan yang ideal bagi sekitar anda yang "orang biasa".
Jangan sampai leluhur anda dicemooh gara gara salah satu keturunannya ada yang bertingkah sikap mengesalkan, meski bukan kuasa kita memilih garis keturunan dari keluarga mana kita "tau tau" dilahirkan.

Saya tidak bermaksud mengkritisi, bukan kapasitas saya untuk itu,
"Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beramal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran"

Semoga kita termasuk orang yang mampu mengikuti nasehat, dalam kebenaran dan kesabaran.
Dan semoga limpahan Rahmat Hidayah dan Perlindungan senantiasa tercurah pada anda dengan dimudahkan dalam segala urusan.
aamiin.

1 komentar:

untuk privasi anda bisa menggunakan anonim, namun tolong jangan nyepam^_^